Memahami Hadits Hijrah dan Pengaruhnya pada Amal Ibadah

Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya

Islam60 Dilihat

Assalamu ‘alaikum Wr,Wb. Pada kesempatan kali ini, www.shop.co.id akan mengajak sahabat semua untuk sama-sama merenungkan hadits di bawah, Semoga bermanfaat :

Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khottob rodiyallohu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusairy An-Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling shahih diantara kitab-kitab hadits)[

Hadits yang diriwayatkan oleh Amirul Mu’minin, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, merincikan prinsip mendasar dalam agama Islam, yaitu pentingnya niat dalam setiap amal perbuatan. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas menyatakan bahwa seluruh amal tergantung pada niatnya, dan setiap individu akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya.

Kedudukan Hadits: Poros Agama

Imam Ahmad bin Hanbal merinci bahwa hadits ini, bersama dengan hadits Umar dan hadits Aisyah, adalah poros agama. Ini berarti tiga hadits tersebut menjadi landasan utama bagi seorang Muslim dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Hadits Umar mengajarkan pentingnya niat, hadits Aisyah memberikan tuntunan terkait tata cara, dan hadits Amirul Mu’minin menyatakan prinsip dasar bahwa niatlah yang menjadi penentu sah atau tidaknya suatu amal.

Setiap Amal Tergantung Niatnya

Konsep bahwa setiap amal tergantung pada niatnya memiliki implikasi besar dalam kehidupan seorang Muslim. Diterimanya atau tidaknya suatu amal, serta kesahihannya, bukan hanya ditentukan oleh keluaran fisik dari amal tersebut, tetapi lebih pada keikhlasan dan tujuan di hati yang menggiringnya.

Fungsi Niat: Pembeda dan Penentu Kualitas Amal

Niat memiliki dua fungsi utama. Pertama, niat berhubungan dengan sasaran suatu amal, membedakan antara amal ibadah dan amal kebiasaan. Kedua, niat berhubungan dengan amal itu sendiri, membedakan antara satu amal ibadah dengan yang lainnya. Inilah yang membuat niat menjadi faktor penentu kualitas dan keberlanjutan amal ibadah.

Pengaruh Niat yang Salah Terhadap Amal Ibadah

Para ulama menyampaikan bahwa niat tidak hanya menjadi syarat sahnya ibadah (seperti yang diakui oleh fuqoha’), tetapi juga menjadi syarat diterimanya ibadah. Niat yang salah, yang tidak ikhlas, dapat berpengaruh besar terhadap status suatu amal ibadah. Ini mencakup pembatalan amal jika niatnya salah sejak awal, dan pembatalan sebagian atau seluruh amal jika terjadi kesalahan niat di tengah-tengah amal.

Beribadah dengan Tujuan Dunia: Pahala Dunia Menurut Syariat

Meskipun pada dasarnya amal ibadah diniatkan untuk meraih kenikmatan akhirat, Islam memahami realitas kehidupan dunia. Oleh karena itu, terkadang diperbolehkan beramal dengan niat untuk tujuan dunia selama syariat memberikan petunjuk bahwa amalan tersebut memiliki pahala dunia. Namun, amal yang dilakukan tanpa mencampur niat untuk mendapatkan dunia cenderung memiliki pahala yang lebih sempurna dibandingkan dengan amal yang disertai niat duniawi.

Makna Hijrah: Meninggalkan Sesuatu Demi Allah dan Rasul-Nya

Hadits juga mencakup pembahasan tentang makna hijrah. Secara syariat, hijrah adalah meninggalkan sesuatu demi Allah dan Rasul-Nya. Ini mencakup pencarian keberadaan yang berada di sisi-Nya dan ittiba’ (pengikut) serta ketaatan terhadap petunjuk Rasul-Nya.

Bentuk-bentuk Hijrah: Menuju Tauhid, Sunnah, dan Keberesan

Ada tiga bentuk hijrah yang mencerminkan pengaruh dari makna hijrah. Pertama, meninggalkan negeri syirik menuju negeri tauhid. Kedua, meninggalkan negeri bid’ah menuju negeri sunnah. Ketiga, meninggalkan negeri penuh maksiat menuju negeri yang sedikit kemaksiatan. Ketiga bentuk hijrah ini memperlihatkan bahwa hijrah bukan hanya soal fisik, tetapi juga transformasi batin menuju ketaatan dan kebenaran.

Dengan demikian, hadits ini menyoroti urgensi niat dalam setiap aspek kehidupan seorang Muslim. Kualitas amal ibadah, penerimaan oleh Allah, dan makna hijrah semuanya terkait erat dengan niat yang lurus dan ikhlas. Oleh karena itu, seorang Muslim dituntut untuk senantiasa menjaga kebersihan hati dan niatnya dalam beribadah, sehingga setiap langkah yang diambil menuju ketaatan kepada Allah benar-benar menghasilkan amal yang berkualitas.

Wassalamu ‘alaikum Wr,Wb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *